Masa kuliah menjadi kesempatan kita untuk mengembangkan diri.
Mendalami ilmu yang diminati, bergaul dengan teman dari berbagai latar
belakang, belajar lebih mengenal diri sendiri; banyak hal yang bisa
dimaksimalkan saat masih menyandang predikat mahasiswa.
Namun, kampus tak lantas lunas memberikan semua yang kita butuhkan sebagai bekal hidup di masa depan. Ada lho hal-hal yang sebenarnya sangat kita butuhkan dalam hidup, tapi tak bisa kamu dapatkan di bangku perkuliahan. Apa saja pelajaran-pelajaran hidup itu? Yuk, simak satu per satu!
Sebagai
lulusan Jurusan Sastra yang bekerja di bidang jurnalistik, ilmu-ilmu
tentang kesusastraan ternyata tak seberapa digunakan. Menulis berita dan
artikel dengan teman-tema populer justru memaksamu memperdalam wawasan
dan kemampuan tata bahasa. Jika saat kuliah kamu terbiasa menulis dengan
gaya bahasa yang ilmiah dan cenderung kaku, pekerjaan menuntutmu lebih
luwes dengan berbagai gaya penulisan.
Yang pasti, proses belajar tidak begitu saja berhenti setelah sah menyandang gelar sarjana. Memasuki dunia kerja berarti memulai proses belajarmu kembali. Bukan lewat buku-buku perkuliahan atau catatan dari dosen, kamu justru belajar dari tugas-tugas yang didelegasikan atasan padamu. Misalnya, ketika didaulat menulis tentang fenomena kemacetan Jakarta, kebutuhan mencari dan menyusun data adalah proses belajar yang secara tak langsung kamu lakoni.
Dalam budaya pergaulan di kampus dikenal istilah senior dan junior. Adik tingkat sebagai junior terdidik menghormati kakak tingkat atau senior
yang biasanya lebih tua atau lebih dahulu mengenyam pendidikan di
kampus. Merekalah yang sedikit banyak membantu mengenalkan dunia kampus
padamu – saat perlu meminjam buku atau ingin bertanya tentang karakter
dosen-dosen pembimbing misalnya.
Namun, sistem ini tentu tak berlaku di dunia kerja. Usia bukanlah patokan yang menentukan siapa yang seharusnya lebih dihormati atau dianggap senior. Maganer-mu di kantor bisa jadi usianya lebih muda darimu dan hal itu sah-sah saja. Yang pasti, semangat kerja dan perjuangannya bisa jadi lebih besar darimu lantaran posisi dan pencapaian juga jauh di atasmu.
Baik
mahasiswa yang individualis atau mereka yang terbiasa bekerja dengan
kelompoknya terbukti bisa sama-sama sukses di kampus. Kemampuan
komunikasi atau bekerja sama dengan orang lain tidak jadi isu yang
begitu penting. Padahal, yang terjadi di dunia nyata justru sebaliknya.
Tugas-tugas kantor mengharuskanmu bisa bekerja dalam tim. Misalnya, seorang staf marketing tak bisa begitu saja menentukan strategi marketing yang paling cocok untuk perusahaan. Sebuah keputusan baru bisa diambil setelah proses diskusi panjang dengan staf lain yang terlibat, persetujuan dari atasan, hingga akhirnya diputuskan. Demi bisa melewati proses ini dengan lancar, kemampuan komunikasi adalah yang kamu andalkan. Intinya, baik gaya bicara, sikap, dan kemampuan mengontrol emosi diri harus benar-benar diperhatikan.
Ketika
masih kuliah, kamu dengan mudah melabeli satu persatu temanmu. Dia yang
selalu iri ketika nilaimu ternyata lebih baik dari nilainya bukanlah
teman. Kawan adalah dia yang selalu menyemangatimu saat ujian, atau dia
yang selalu berbaik hati meminjamkan catatan.
Sementara, yang terjadi di dunia kerja justru jauh berbeda. Bahkan, teman dan lawan akan sangat sulit dibedakan. Rekan kerja yang setiap makan siang selalu menemani dan jadi teman mengobrol, bisa jadi saingan terberatmu. Mungkin, dialah yang menjadikanmu gagal mendapat promosi lantaran prestasinya ternyata lebih baik darimu.
Apakah hal ini salah? Tentu tidak. Setiap orang berhak berjuang secara profesional untuk karirnya. Kamu pun selayaknya bisa berlaku dewasa dengan tidak membiarkan urusan pekerjaan mempengaruhi pertemanan kalian.
Saat kuliah kamu merasa bisa bebas menjadi dirimu sendiri. Kamu
bisa lugas menegaskan apa yang kamu suka dan tidak disukai. Ketika
mendapat tugas kelompok, kamu juga punya kesempatan untuk menghindari
teman-teman yang tidak membuatmu merasa nyaman.
Namun, hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas mendidikmu untuk belajar menahan diri. Kecil kemungkinan kamu bisa memilih tim kerja yang kamu sukai lantaran hal itu biasanya sudah ditetapkan perusahaan. Kamu seharusnya siap menghadapi berbagai karakter rekan-rekan kerjamu. Sementara, menjaga sikap dan tutur katamu pun sudah jadi hal yang wajib karena dari situlah mereka akan menilai dirimu.
Jika
saat kuliah pertemananmu hanya berkutat di lingkungan jurusan atau
fakultas, tentu akan berbeda setelah lulus. Pasalnya, kamu butuh
menjalin pertemanan yang lebih luas – dengan lebih banyak teman dari
berbagai latar belakang. Yang pasti, kelak saat mencari pekerjaan atau
merintis bisnis, kamu akan menyadari pentingya koneksi tersebut.
Setelah
lulus dan hidup mandiri, salah satu tantangan terbesar yang harus
dihadapi adalah mengatur keuanganmu. Tentang bagaimana menyeimbangkan
pemasukan dan pengeluaran. Menghitung gaji lalu menyesuaikannya dengan
berbagai kebutuhan yang tidak bisa tidak dipenuhi. Kamu pun
sekuat-kuatnya berusaha menyisihkan uang demi bisa punya tabungan.
Walaupun terdengar tidak mudah, ‘matang’ secara finasial adalah tuntutan
di usia dewasa. Sebelumnya, Hipwee sudah pernah menuliskan tentan saran-saran finansial untuk anak muda 20-an di sini.
Nilai
ujian yang jelek atau saat tak bisa menjawab pertanyaan dosen di kelas
mungkin membuatmu terlihat tidak pintar. Tapi, dunia kerja menjadikan
kesalahan sebagai sesuatu yang justru berharga. Kesalahan atau kegagalan
justru menunjukkan usahamu yang terus-menerus. Misalnya, seorang entrepreneur yang beberapa kali bangkrut justru akhirnya bisa menemukan bidang usaha yang paling sesuai untuk digelutinya.
Sistem
belajar di kampus membiasakan kita berorientasi pada nilai. Kadang,
ketika hasil ujian tak cukup memuaskan, kita akan merasa kecewa atau
bahkan sedih. Kondisi ini bisa jadi membuatmu cenderung ambisius,
terlalu fokus pada tujuan tapi tak menikmati proses. Kamu boleh jadi
dapat nilai bagus tapi tak lekat-lekat meresapi ilmu yang kamu pelajari.
Lepas dari kampus menjadikanmu sadar bahwa hidup tak selalu soal tujuan atau target. Menghadapi berbagai tugas dari bos meyakinkanui bahwa setiap hari adalah proses belajar dan kesempatan bertumbuh jadi pegawai sekaligus pribadi yang lebih baik. Bahkan, kamu pun belajar untuk selalu siap menghadapi kemungkinan gagal yang bisa datang kapan saja. Yang pasti, sekali dua kali jatuh tak lantas menghentikan langkahmu, kamu akan bergegas berlari dan melanjutkan perjalananmu.
Semua
orang berproses dengan kehidupan mereka masing-masing, termasuk
teman-temanmu. Dulu, saat masih kuliah, banyak hal yang kalian bisa
lewati bersama. Mengerjakan tugas, makan siang, nongkrong sepulang
kuliah; kebersamaan ini harus diakui menjadikan beban hidupmu sedikit
terasa lebih ringan.
Namun, keadaan akan 180 derajat berubah ketika satu-persatu temanmu lulus. Mereka mulai melanjutkan hidup ke jenjang selanjutnya; mulai menjajal berbagai lowongan pekerjaan, melanjutkan kuliah S2, atau justru memutuskan untuk segera menikah. Bukan berarti tak lagi peduli satu sama lain, tapi masing-masing individu memang harus memperjuangkan hidupnya sendiri. Kamu pun sudah seharusnya mulai berjuang sendiri demi masa depanmu.
Nah, gimana? sudah cukupkah bekal yang kamu punya untuk menjejak dunia yang sebenarnya? Jika belum, jangan jadikan dirimu takut, ya! Tak ada pilihan lain kecuali mempersiapkan dirimu mulai sekarang demi masa depanmu kelak!
Baca juga : Makanan “Hebat” yang Membuat Fokus dan Daya Ingatmu Melejit!
Namun, kampus tak lantas lunas memberikan semua yang kita butuhkan sebagai bekal hidup di masa depan. Ada lho hal-hal yang sebenarnya sangat kita butuhkan dalam hidup, tapi tak bisa kamu dapatkan di bangku perkuliahan. Apa saja pelajaran-pelajaran hidup itu? Yuk, simak satu per satu!
1. Sikap rendah hati dan kemauan untuk belajar tak lantas tumbuh saat kamu mengikuti perkuliahan. Mereka hanya akan kamu dapatkan lewat pengalaman nyata di lapangan.

rendah hati dan mau belajar via www.flickr.com
Yang pasti, proses belajar tidak begitu saja berhenti setelah sah menyandang gelar sarjana. Memasuki dunia kerja berarti memulai proses belajarmu kembali. Bukan lewat buku-buku perkuliahan atau catatan dari dosen, kamu justru belajar dari tugas-tugas yang didelegasikan atasan padamu. Misalnya, ketika didaulat menulis tentang fenomena kemacetan Jakarta, kebutuhan mencari dan menyusun data adalah proses belajar yang secara tak langsung kamu lakoni.
2. Senioritas tak akan membantumu untuk maju. Kerja keras dan kegigihan adalah dua hal yang akan menentukan kesuksesanmu.

jabatan dan rasa hormat diperoleh karena kerja keras via www.flickr.com
Namun, sistem ini tentu tak berlaku di dunia kerja. Usia bukanlah patokan yang menentukan siapa yang seharusnya lebih dihormati atau dianggap senior. Maganer-mu di kantor bisa jadi usianya lebih muda darimu dan hal itu sah-sah saja. Yang pasti, semangat kerja dan perjuangannya bisa jadi lebih besar darimu lantaran posisi dan pencapaian juga jauh di atasmu.
3. Pembelajaran di kelas tidak mengajarkanmu cara berkembang dengan cepat. Kemampuan komunikasi dan kelihaian bekerja hanya bisa kamu pelajari lewat persaingan dunia kerja yang ketat.

kemampuan komunikasi yang mumpuni via www.flickr.com
Tugas-tugas kantor mengharuskanmu bisa bekerja dalam tim. Misalnya, seorang staf marketing tak bisa begitu saja menentukan strategi marketing yang paling cocok untuk perusahaan. Sebuah keputusan baru bisa diambil setelah proses diskusi panjang dengan staf lain yang terlibat, persetujuan dari atasan, hingga akhirnya diputuskan. Demi bisa melewati proses ini dengan lancar, kemampuan komunikasi adalah yang kamu andalkan. Intinya, baik gaya bicara, sikap, dan kemampuan mengontrol emosi diri harus benar-benar diperhatikan.
4. Hanya lewat interaksi sehari-hari kamu mampu membedakan antara kawan dan lawan. Lewat cara inilah kamu bisa bertahan di tengah persaingan.

sulit menilai teman dan lawanmu via www.ryot.org
Sementara, yang terjadi di dunia kerja justru jauh berbeda. Bahkan, teman dan lawan akan sangat sulit dibedakan. Rekan kerja yang setiap makan siang selalu menemani dan jadi teman mengobrol, bisa jadi saingan terberatmu. Mungkin, dialah yang menjadikanmu gagal mendapat promosi lantaran prestasinya ternyata lebih baik darimu.
Apakah hal ini salah? Tentu tidak. Setiap orang berhak berjuang secara profesional untuk karirnya. Kamu pun selayaknya bisa berlaku dewasa dengan tidak membiarkan urusan pekerjaan mempengaruhi pertemanan kalian.
5. Gelar setinggi langit tak serta merta mengajarkanmu soal kepekaan. Hanya dari interaksi di tempat kerja kamu akan belajar bagaimana caranya menjaga perasaan.

kepribadianmu dinilai dari tutur kata dan perilaku via mashable.com
Namun, hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas mendidikmu untuk belajar menahan diri. Kecil kemungkinan kamu bisa memilih tim kerja yang kamu sukai lantaran hal itu biasanya sudah ditetapkan perusahaan. Kamu seharusnya siap menghadapi berbagai karakter rekan-rekan kerjamu. Sementara, menjaga sikap dan tutur katamu pun sudah jadi hal yang wajib karena dari situlah mereka akan menilai dirimu.
6. IPK tinggi tidak menjamin keberhasilanmu. Tapi, justru koneksi dan jejaring luaslah yang akan membantu.

pentingnya menjalin koneksi via www.flickr.com
7. Tak ada pelajaran kuliah yang mengajarimu cara praktis mengatur pengeluaran. Saat kekurangan uang dengan rekening yang pas-pasan, barulah kamu akan belajar bertahan.

menabung bukan perkara sederhana via www.makemoneyinlife.com
8. Di bangku kuliah, kamu hanya akan gelisah saat salah mengerjakan soal ujian. Namun di dunia kerja nanti, kamu perlu belajar bahwa kesalahan tak boleh membuatmu menyerah dalam kegagalan.

kesalahan adalah pertanda baik via www.businessinsider.my
9. Hidup ternyata bukan soal tujuan. Tapi proses panjang di baliknyalah yang akan menempamu agar berkembang.

hidup adalah perjalanan bukan sekadar tujuan via hereandnow.wbur.org
Lepas dari kampus menjadikanmu sadar bahwa hidup tak selalu soal tujuan atau target. Menghadapi berbagai tugas dari bos meyakinkanui bahwa setiap hari adalah proses belajar dan kesempatan bertumbuh jadi pegawai sekaligus pribadi yang lebih baik. Bahkan, kamu pun belajar untuk selalu siap menghadapi kemungkinan gagal yang bisa datang kapan saja. Yang pasti, sekali dua kali jatuh tak lantas menghentikan langkahmu, kamu akan bergegas berlari dan melanjutkan perjalananmu.
10. Kamu tak boleh bergantung pada orang lain. Kawan akan datang dan pergi. Satu-satunya yang bisa kamu harapkan adalah dirimu sendiri.

kamu yang bertanggung jawab pada dirimu via www.flickr.com
Namun, keadaan akan 180 derajat berubah ketika satu-persatu temanmu lulus. Mereka mulai melanjutkan hidup ke jenjang selanjutnya; mulai menjajal berbagai lowongan pekerjaan, melanjutkan kuliah S2, atau justru memutuskan untuk segera menikah. Bukan berarti tak lagi peduli satu sama lain, tapi masing-masing individu memang harus memperjuangkan hidupnya sendiri. Kamu pun sudah seharusnya mulai berjuang sendiri demi masa depanmu.
Nah, gimana? sudah cukupkah bekal yang kamu punya untuk menjejak dunia yang sebenarnya? Jika belum, jangan jadikan dirimu takut, ya! Tak ada pilihan lain kecuali mempersiapkan dirimu mulai sekarang demi masa depanmu kelak!
Baca juga : Makanan “Hebat” yang Membuat Fokus dan Daya Ingatmu Melejit!
Perasaan yang Akan Kalian Alami Saat Menjalani Hubungan Pacaran yang Dewasa
Langkah - Langkah yang Membuat Memorimu Maksimal
Cara LDR-anmu Tetap Bertahan
Wrote by Unknown
















